KESOPANAN BERBAHASA DALAM TEKS PASAMBAHAN TINJAUAN PRAGMATIK



Bram Denafri

Abstract


Pasambahan is a two party conversation between host (sipangka) and guest (alek) to convey intentions and objectives with respect. This study aimed to reveal the politeness form contained in the text pasambahan of writing Datuek Tonggak Sati. To identify the politeness form in the passage,the theory of politness proposed by Leech was used. Leech divides the principle of politeness into six maxims, namely the Tact Maxim, generosity maxim, approbiation maxim, modesty maxim, agreement maxim, and sympathy maxim. Method of data provision used is identity method. Method of data analysis used is referential identity method and translational identity method. The method of presentation of research results used is the informal method. The results of this study revealed that the Minangkabau public speech in bapasambahan found in many forms of taxt maxim. Because the Minangkabau people in bapasambahan use allegories in communicating with interlocutor said. That Minangkabau people are required to be someone who is wise and prudent. Wise in understanding the speech delivered by his interlocutor in the form of figuratively and prudent in responding to the figurative delivered by his interlocutor


Pasambahan merupakan percakapan dua pihak yang bersangkutan antara tuan rumah (sipangka) dan tamu (si alek) untuk menyampaikan maksud dan tujuan dengan hormat. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk kesopanan yang terdapat pada teks pasambahan. Untuk mengungkapkan bentuk kesopanan dalam pasambahan, digunakan teori kesopanan berbahasa yang dikemukakan oleh Lecch. Leech membagi prinsip kesopanan menjadi 6 maksim, yaitu maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Metode penyediaan data yang digunakan adalah metode simak. Metode analisis data yang digunakan adalah metode padan referensial dan translasional. Metode penyajian hasil penelitian yang digunakan adalah metodeĀ  informal. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tuturan masyarakat Minangkabau dalam bapasambahan banyak ditemukan dalam bentuk maksim kearifan karena masyarakat Minangkabau dalam bapasambahan menggunakan kiasan dalam berkomunikasi dengan mitra tuturnya. Sehingga masyarakat Minangkabau dituntut untuk menjadi seseorang yang arif dan bijaksana. Arif memahami tuturan yang disampaikan oleh mitra tuturnya dalam bentuk kiasan dan bijaksana dalam merespon kiasan yang disampaikan oleh mitra tuturnya.


Keywords


Minangkabau; pasambahan; principle of politeness

Full Text:

PDF

Article Statistics

Abstract View : 0 Times
PDF : 0 Downloaded

References


Djamaris, Edward. (2001). Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Dahrizal, Musra. (2004). Rekonturuksi Mata Kuliah Pasambahan. Padang: Jurusan Sastra Daerah Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau, Fakultas Sastra, Universitas Andalas.

Jamalus Tonggak Sati. (2007). Pasambahan di Kenagarian Muaro Paneh.

Leech, Geoffrey. (1993). Prinsip-Prinsip Pragmatik (diindonesiakan oleh M.D.D Oka) Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Medan, Tamsis. (1988). Antologi Kebahasaan. Padang: Angkasa Raya.

Sudaryanto. (1993). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana Universty Press.

Sulaiman, Rajo. (______). Pasambahan. Padang Panjang: Akademi Seni Karawitan Indonesia.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Bram Denafri

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.